Unusa Ambil Sumpah 17 Dokter Baru – RADARNASIONAL.ID
Surabaya, Radarnasional.id -Sebanyak 17 mahasiswa kedokteran Unusa diambil sumpahnya Kamis (20/2/2025).
Mereka sebelumnya telah menjalani pendidikan profesi dokter selama dua tahun dan telah menempuh UKMPPD, yaitu ujian yang harus dilalui oleh mahasiswa Program Profesi Dokter sebelum dinyatakan layak menyandang jabatan dokter. UKMPPD terdiri dari dua fase ujian yaitu tes berbasis komputer (Computer Based Tes) dan OSCE (Objective Structured Clinical Examination).
Pengambilan sumpah dokter ini dilakukan Unusa untuk yang kesebelas kalinya. Hingga kini FK Unusa telah menghasilkan 187 dokter. Mereka tersebar di beberapa daerah serta di luar negeri untuk mengambil studi lanjut dan didalam negeri mengambil spesialis.
Dekan FK Unusa, Dr dr Handayani M.Kes., merasa bangga dengan prestasi yang telah diukir para alumninya. “Doakan kami dalam waktu dekat bisa memberikan status akreditasi unggul, sehingga akan menambah kepercayaan kami sebagai dosen dan juga bagi para alumni. Kami akan menyusul institusi Unggul dari Unusa,” katanya.
Institusi Unusa sejak tahun 2023 dinyatakan unggul oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT). Ini diperoleh Unusa setelah lebih 80% prodi yang ada di Unusa terakreditasi unggul.
Dalam waktu dekat FK Unusa akan menjalani reakreditasi program studi. Kini sudah prosesnya asedang berjalan. “Berbekali prestasi dari para alumni juga fasilitas kampus yang telah memenuhi persyaratan untuk tempat penyelenggaraan UKMPPD, baik melalui penilaian berbasis komputer (Computer Based Tes) dan OSCE (Objective Structured Clinical Examination), kami berharap reakreditasi nanti akan memperoleh predikat unggul. Kami sudah siap untuk divisitasi,” katanya.
Ada banyak kisah menarik dari perjalanan 17 dokter tersumpah. Berikut beberapa dari kisah mereka:
Jalani Cangkok Ginjal, Nyaris Gagal Jadi Dokter
DIA adalah Muhammad Dandy Rizaldi Putra. Putra ketiga dari empat bersaudara Kelahiran Blitar, 3 Desember 1995 dari Bapak Joesoef Wibisono.
Bagi Dandy, menjadi dokter adalah mimpi dan cita-citanya dari kecil, karena itu meski ia mengalami sakit ginjal dan menjalani transplantasi, keinginannya terus berokbar dalam hati. Bagi Dandy untuk mewujudkannya cita-citanya bukan hal mudah di tengah sakit gagal ginjal yang diderita. Awalnya Dandy bahkan nyaris kehilangan mimpinya tersebut saat vonis gagal ginjal pada 2018 silam.
“Saya masuk FK Unusa tahun 2016. Kemudian tahun 2018 itu saya didiagnosis gagal ginjal dan harus cuci darah, bahkan sampai transplantasi ginjal,” kisah Dandy.
Dandy tak begitu saja menyerah, untuk mewujudkan mimpinya menjadi dokter, Dandy rela menjalani cuci darah di sela aktivitas kuliah. Ini berlangsung selama 6 bulan. Tapi kondisi tubuhnya terus memburuk, hingga ia harus cuti kuliah. “Sempat cuci darah di sela-sela kuliah. Tapi kondisi tubuh terus nge drop, akhirnya harus cuti kuliah di akhir tahun 2018,” tutur putra ketiga Bapak Joesoef Wibisono dari 4 bersaudara ini.
Kondisi tubuh Dandy yang tak kunjung membaik membuatnya harus menjalani transplantasi ginjal. Rencana transplantasi ginjal ini pun tak berjalan mulus, Dandy kesulitan mencari donor ginjal yang cocok.
“Sempat ada masalah dengan pendonor, akhirnya harus cari (pendonor) dari keluarga yang cocok ginjalnya dengan saya,” imbuhnya
Hingga akhirnya sang ibu merelakan ginjalnya untuk Dandy. Operasi transplantasi ginjal pun dilakukan. Namun usai menjalani operasi, kondisi Dandy sempat memburuk. Dandy pun mulai merelakan mimpinya menjadi dokter terhempas.
“Sempat nge drop setelah operasi. Tapi saya lihat perjuangan ibu saya yang luar biasa, bahkan sampai merelakan ginjalnya. Dari situ saya mulai mencoba untuk bangkit dan berusaha sekuat tenaga untuk sembuh,” tegasnya.
Tak hanya dukungan dari keluarga, terutama sang ibu, yang membuatnya mengumpulkan kembali semangat untuk sembuh dan melanjutkan kuliah. Dukungan dari kampusnya, FK Unusa, cukup memompa semangat Dandy.
“Dukungan dari keluarga dan kampus, Masya Allah sangat luar biasa. Dosen, dokter, dan teman FK bahkan sampai datang silih berganti menjenguk saya. Saya makin bertekad untuk bisa sembuh dan kuliah lagi,” tukas Dandy.
Setelah kondisinya di rasa mulai membaik, di awal 2021 Dandy memutuskan melanjutkan kuliah. Sempat dilanda rasa tak enak karena ditinggal teman satu angkatan dan harus kuliah bersama adik kelas, Dandy mencoba menguatkan diri.
“Agak syok karena kuliah sudah ketinggalan dan harus barengan adik kelas. Itu di awal saya kembali kuliah lagi. Tapi saya buang jauh-jauh pikiran itu. Saya harus bisa selesaikan kuliah dan jadi dokter,” tekad Dandy kala itu.
Hingga akhirnya pada Kamis (20/2) Dandy dikukuhkan menjadi dokter. Inilah hasil dari perjuangan tak pantang menyerah yang dilakoni Dandy selama hampir 10 tahun.
“Alhamdulillah hari ini dikukuhkan jadi dokter. Saya juga tidak menyangka akan sampai di titik ini. Tadinya saya sudah hampir menyerah (melepas mimpi jadi dokter),” tutur Dandy penuh haru. (***)
Siap Kembali Ke Tanah Kelahiran
INGIN kembali ke tanah kelahiran, itulah niat mulia Nadia Hidayati, satu dari 17 dokter tersumpah Unusa, Kamis (20/2). Besar dan dilahirkan di Amuntai, Kalimantan Tengah, pada 3 Desember 1998, putra dari bapak Samsudin ini menempuh pendidikan di FK Unusa, hingga menyandang gelar dokter selama 6 tahun.
“Alhamdulillah Nadia bisa mewujudkan mimpi masuk FK dan jadi dokter,” ujar gadis asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Nadia patut berbangga. Pasalnya, untuk bisa mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter, Nadia harus rela meninggalkan tanah kelahirannya, Palangkaraya. Seorang diri, Nadia merantau ke Surabaya demi menimba ilmu di FK Unusa.
“Dapat info dari teman yang kuliah di FK Unusa. Awalnya sempat ragu karena bagaimana pun juga saya ingin kuliahnya nggak jauh-jauh, sekitaran sini (Palangkaraya) saja kalau bisa,” jelas Nadia.
Namun karena FK Unusa yang memiliki basic sebagai kampus dengan latar belakang agama yang kuat, Nadia mulai ‘tergoda’. Apalagi setelah berdiskusi dengan kedua orang tua, Nadia kian memantapkan hati kuliah di FK Unusa.
“Orang tua awalnya juga keberatan karena saya harus ke Jawa ya. Apalagi saya anak perempuan. Tapi karena FK Unusa itu kampus dengan basic agama yang kuat, orang tua akhirnya mendukung,” tutur Nadia.
Nadia tak menampik jika di Surabaya ada banyak FK yang bisa dijadikan tempat menimba ilmu. Namun Nadia lebih condong memilih FK Unusa. Dengan bermodal keyakinan yang kuat, Nadia mampu menjalankan tes ujian masuk FK Unusa.
“Alhamdulillah akhirnya Nadia bisa diterima di FK Unusa,” tukasnya.
Usai menggenggam gelar dokter, nantinya Nadia ingin kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdikan diri. Apalagi kawasan Kalimantan masih kekurangan tenaga kesehatan.
“Masih minim ya (jumlah tenaga kesehatan). Saya ingin ilmu yang sudah saya peroleh selama kuliah di FK Unusa, saya implementasikan di tanah kelahiran, membantu masyarakat di sini,” tandasnya. (afp)

Average Rating